selisih upah minimum sektoral (UMSK) di atas UMK yang berlaku di sektor tertentu — dan banyak UKM tidak tahu mereka terikat kewajiban ini
Sumber: Kalkulasi berbasis Keputusan Gubernur DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten 2024–2025 (2025)
Oktober 2024, seorang HR Manager di perusahaan logistik Bekasi mendapat surat dari serikat pekerja: 87 karyawan gudang mereka menuntut selisih upah selama 14 bulan. Bukan karena perusahaan membayar di bawah UMK — mereka sudah patuh. Masalahnya, sektor pergudangan dan logistik di Kabupaten Bekasi punya UMSK tersendiri yang lebih tinggi Rp 320.000 dari UMK, dan perusahaan tidak pernah tahu itu berlaku untuk mereka.
Total klaim: lebih dari Rp 390 juta. Belum termasuk potensi sanksi administratif.
Jawaban Singkat

Tidak selalu cukup membayar sebesar UMP atau UMK. Jika perusahaan Anda beroperasi di sektor industri tertentu — seperti manufaktur otomotif, tekstil, kimia, perhotelan, atau konstruksi — dan berlokasi di provinsi atau kabupaten/kota yang telah menetapkan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) atau Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK), maka Anda wajib membayar minimal sebesar upah sektoral tersebut, bukan sekadar UMK. UMSP dan UMSK selalu lebih tinggi dari UMP/UMK — selisihnya bisa 5% hingga 20% tergantung sektor dan daerah. Jika ragu apakah perusahaan Anda terikat UMSK, cek Keputusan Gubernur atau Bupati/Walikota setempat untuk tahun berjalan, atau gunakan fitur compliance check di FirstPayroll yang membantu HR mengidentifikasi kewajiban upah sektoral secara otomatis.
Apa Itu UMSP dan UMSK — dan Mengapa Ini Bukan Sekadar "Versi Mahal UMK"
Banyak HR Manager memperlakukan upah minimum sebagai satu angka tunggal: UMP untuk level provinsi, UMK untuk level kabupaten/kota. Padahal struktur upah minimum Indonesia punya empat lapisan:
| Jenis | Level | Dasar Hukum | Sifat |
|---|---|---|---|
| UMP | Provinsi | PP 36/2021, Permenaker 18/2022 | Wajib, berlaku umum |
| UMK | Kabupaten/Kota | PP 36/2021, Permenaker 18/2022 | Wajib, menggantikan UMP di daerah yang punya UMK |
| UMSP | Provinsi, per sektor | Keputusan Gubernur | Wajib jika sektor cocok |
| UMSK | Kabupaten/Kota, per sektor | Keputusan Bupati/Walikota | Wajib jika sektor cocok |
UMSP dan UMSK bukan pilihan — ini kewajiban hukum yang mengikat perusahaan di sektor yang tercakup. Dasar hukumnya ada di PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, Pasal 25 ayat (1) yang menyatakan upah minimum sektoral ditetapkan berdasarkan kesepakatan asosiasi pengusaha dengan serikat pekerja di sektor terkait, dan disahkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota. Kewajiban ini diperkuat oleh UU No. 6 Tahun 2023 (pengesahan Perppu Cipta Kerja) yang mempertahankan mekanisme upah minimum sektoral sebagai instrumen perlindungan pekerja di sektor padat karya.
So what untuk HR Anda? Jika perusahaan Anda bergerak di sektor manufaktur, perhotelan, konstruksi, atau ritel — dan berlokasi di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, atau Jawa Timur — kemungkinan besar ada UMSP atau UMSK yang berlaku. Mengabaikannya bukan hanya risiko klaim karyawan, tapi juga pelanggaran yang bisa berujung sanksi pidana berdasarkan Pasal 185 UU Ketenagakerjaan.
Sektor Apa Saja yang Punya UMSP/UMSK Aktif di 2025?
Ini yang paling sering ditanyakan — dan paling jarang dijawab secara konkret. Berikut gambaran berdasarkan Keputusan Gubernur yang telah diterbitkan untuk 2025:
DKI Jakarta
DKI Jakarta secara historis menetapkan UMSP untuk beberapa sektor. Berdasarkan pola penetapan tahun-tahun sebelumnya dan Keputusan Gubernur DKI Jakarta terkait upah minimum 2025, sektor yang umumnya tercakup meliputi:
- Industri kimia dan farmasi — UMSP biasanya 8–12% di atas UMP DKI
- Industri otomotif dan komponen — selisih 10–15%
- Perbankan dan keuangan — selisih 15–20%
- Perhotelan bintang 4 dan 5 — selisih 8–10%
Jawa Barat
Jawa Barat adalah provinsi dengan UMSK paling kompleks di Indonesia — karena setiap kabupaten/kota industri (Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bogor) bisa punya UMSK sendiri yang berbeda-beda per sektor. Sektor yang secara konsisten punya UMSK di Jawa Barat:
- Tekstil, garmen, dan alas kaki — sektor padat karya dengan UMSK aktif di Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Bogor
- Otomotif dan komponen — UMSK Karawang dan Bekasi biasanya 10–18% di atas UMK
- Logistik dan pergudangan — UMSK Bekasi aktif, ini yang menjadi kasus di pembuka artikel
- Kimia dan petrokimia — UMSK Kabupaten Karawang
Banten
Banten menetapkan UMSP provinsi untuk beberapa sektor, dengan fokus pada:
- Industri baja dan logam dasar — Cilegon sebagai pusat industri baja punya UMSK tersendiri
- Industri kimia — UMSP Banten berlaku untuk sektor ini
- Konstruksi — UMSP Banten untuk konstruksi bangunan gedung
provinsi industri utama Indonesia punya UMSP/UMSK aktif di 2025 (DKI, Jabar, Banten)
So what untuk HR Anda? Jika perusahaan Anda ada di kawasan industri Bekasi, Karawang, Purwakarta, Tangerang, atau Cilegon — dan bergerak di sektor manufaktur, logistik, atau kimia — probabilitas Anda terikat UMSK sangat tinggi. Langkah pertama: hubungi Dinas Tenaga Kerja setempat atau cek JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum) provinsi/kabupaten Anda.
Cara Mengecek Apakah Perusahaan Anda Terikat UMSK 2025
Tidak ada satu database nasional yang merangkum semua UMSP/UMSK aktif — ini yang membuat banyak HR kecolongan. Berikut alur verifikasi yang bisa dilakukan dalam satu hari kerja:
Langkah 1: Identifikasi KBLI perusahaan Anda UMSK ditetapkan berdasarkan klasifikasi sektor industri menggunakan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Cek KBLI perusahaan Anda di NIB (Nomor Induk Berusaha) di OSS. Ini kode 5 digit yang menentukan apakah sektor Anda masuk dalam cakupan UMSK.
Langkah 2: Cek Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota
- Untuk UMSP: cari di JDIH provinsi (contoh: jdih.jabarprov.go.id untuk Jawa Barat)
- Untuk UMSK: cari di JDIH kabupaten/kota atau situs Disnaker setempat
- Kata kunci pencarian: "Keputusan Gubernur upah minimum sektoral 2025" atau "SK Bupati UMSK [nama kabupaten] 2025"
Langkah 3: Cocokkan KBLI dengan lampiran SK Setiap SK UMSP/UMSK punya lampiran yang mencantumkan daftar sektor (biasanya dalam format KBLI atau nama sektor) beserta besaran upah minimumnya. Jika KBLI perusahaan Anda ada di lampiran itu, Anda terikat.
Langkah 4: Hitung selisih dan audit historis Jika ternyata Anda terikat UMSK dan selama ini membayar sebesar UMK, hitung selisih per karyawan per bulan, lalu kalikan dengan jumlah bulan sejak SK berlaku.
CV Karya Mandiri Tekstil, Kabupaten Bogor (38 karyawan, industri garmen)
Tantangan: Membayar UMK Bogor selama 2 tahun tanpa mengetahui UMSK garmen Kabupaten Bogor lebih tinggi Rp 180.000/bulan
Solusi: Audit mandiri setelah konsultasi dengan Disnaker Bogor, rekonstruksi selisih 24 bulan, dan pembayaran bertahap yang disepakati dengan karyawan
↑ Hasil: Total selisih Rp 163 juta dibayar dalam 6 cicilan, tidak ada gugatan PHI karena penyelesaian bipartit berhasil
Contoh Perhitungan: Selisih UMSK vs UMK dan Dampaknya ke Payroll
Ambil contoh konkret: perusahaan manufaktur komponen otomotif di Kabupaten Karawang dengan 25 karyawan produksi.
Asumsi (ilustratif, mengacu pada pola historis):
- UMK Karawang 2025: Rp 5.900.000/bulan (angka ilustratif — cek SK resmi untuk angka aktual)
- UMSK sektor otomotif Karawang 2025: Rp 6.490.000/bulan (selisih ~10%)
- Selisih per karyawan: Rp 590.000/bulan
- Jumlah karyawan terdampak: 25 orang
Kalkulasi dampak:
| Periode | Selisih per Karyawan | Total 25 Karyawan |
|---|---|---|
| Per bulan | Rp 590.000 | Rp 14.750.000 |
| Per kuartal | Rp 1.770.000 | Rp 44.250.000 |
| Per tahun | Rp 7.080.000 | Rp 177.000.000 |
| 2 tahun (jika tidak terdeteksi) | Rp 14.160.000 | Rp 354.000.000 |
Angka Rp 354 juta bukan hanya klaim upah — ini juga menjadi basis perhitungan ulang THR, uang pesangon (jika ada PHK), dan iuran BPJS Ketenagakerjaan yang mungkin juga underpaid.
Membayar UMK saat seharusnya UMSK bukan sekadar selisih upah — ini multiplier effect yang menyentuh THR, pesangon, dan BPJS sekaligus.
So what untuk HR Anda? Jika audit menunjukkan ada selisih historis, jangan panik dan jangan diam. Pendekatan bipartit (negosiasi langsung dengan karyawan atau serikat) yang terdokumentasi dengan baik jauh lebih aman daripada menunggu klaim ke Pengadilan Hubungan Industrial. Menurut data Kemenaker, lebih dari 60% sengketa upah yang diselesaikan di tingkat bipartit tidak berlanjut ke mediasi atau PHI.
Konsekuensi Hukum Membayar di Bawah UMSK
Ini yang sering diremehkan: membayar di bawah UMSK bukan pelanggaran administratif ringan. Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 185 (yang masih berlaku untuk ketentuan pidana meski sebagian pasal diubah oleh UU Cipta Kerja), pengusaha yang membayar upah di bawah upah minimum — termasuk upah minimum sektoral — dapat dikenai:
- Sanksi pidana: penjara 1–4 tahun dan/atau denda Rp 100 juta–Rp 400 juta
- Sanksi administratif: teguran tertulis, pembatasan kegiatan usaha, hingga pencabutan izin usaha (berdasarkan PP 36/2021)
- Kewajiban membayar selisih upah sejak tanggal berlakunya UMSK yang dilanggar, dengan bunga keterlambatan
Yang perlu dipahami: tidak tahu bukan pembelaan yang valid di hadapan pengawas ketenagakerjaan. Kewajiban mengetahui regulasi upah yang berlaku ada di pihak pengusaha.
maksimum denda pidana untuk pelanggaran pembayaran di bawah upah minimum (termasuk UMSK)
So what untuk HR Anda? Jika saat ini Anda belum yakin apakah perusahaan terikat UMSK, lakukan audit internal sekarang — sebelum ada inspeksi dari pengawas ketenagakerjaan atau klaim dari karyawan. Koreksi proaktif yang terdokumentasi diperlakukan jauh lebih ringan oleh pengawas dibanding pelanggaran yang ditemukan saat inspeksi.
Tips Praktis: Checklist Kepatuhan UMSK untuk HR UKM
Berikut langkah konkret yang bisa Anda mulai minggu ini:
-
Cek KBLI di NIB perusahaan — login ke oss.go.id, lihat kode KBLI 5 digit di profil usaha Anda.
-
Identifikasi lokasi operasional — jika punya cabang di beberapa kabupaten/kota, setiap lokasi perlu dicek UMSK-nya secara terpisah.
-
Unduh SK UMSP/UMSK terbaru dari JDIH provinsi dan kabupaten/kota tempat Anda beroperasi. Simpan sebagai dokumen compliance.
-
Bandingkan dengan struktur gaji aktual — khususnya untuk karyawan di level upah minimum atau sedikit di atasnya.
-
Dokumentasikan proses verifikasi — jika ternyata tidak terikat UMSK, catat alasannya (KBLI tidak masuk cakupan, atau daerah belum menetapkan UMSK). Ini berguna jika ada audit.
-
Set reminder tahunan — UMSP/UMSK ditetapkan ulang setiap tahun, biasanya November–Desember untuk berlaku Januari tahun berikutnya. Jangan hanya cek sekali.
-
Konsultasikan dengan Disnaker setempat jika ada keraguan interpretasi — mereka wajib memberikan informasi ini secara gratis.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah semua perusahaan di sektor manufaktur otomatis terikat UMSK?
Tidak otomatis. UMSK hanya berlaku jika: (1) Gubernur atau Bupati/Walikota di daerah Anda telah menerbitkan SK UMSK untuk tahun berjalan, dan (2) KBLI perusahaan Anda masuk dalam daftar sektor yang tercakup di SK tersebut. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, UMK yang berlaku.
Berapa selisih UMSK dibanding UMK yang umum terjadi di Indonesia?
Berdasarkan pola historis Keputusan Gubernur di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, selisih UMSK di atas UMK berkisar antara 5% hingga 20% tergantung sektor. Sektor dengan selisih tertinggi biasanya adalah perbankan, kimia, dan otomotif. Sektor tekstil dan garmen biasanya di kisaran 5–8%.
Bagaimana jika perusahaan sudah terlanjur membayar di bawah UMSK selama beberapa bulan?
Segera lakukan audit internal untuk menghitung total selisih. Kemudian lakukan pendekatan bipartit dengan karyawan untuk menyepakati mekanisme pembayaran selisih — bisa sekaligus atau bertahap. Dokumentasikan kesepakatan secara tertulis. Koreksi proaktif sebelum ada inspeksi atau klaim formal umumnya diperlakukan lebih ringan oleh pengawas ketenagakerjaan. FirstPayroll memiliki fitur rekonstruksi payroll historis yang membantu HR menghitung selisih ini secara akurat untuk setiap karyawan.
Apakah UMSK berlaku untuk karyawan kontrak (PKWT) dan outsourcing?
Ya. UMSK berlaku untuk semua pekerja yang bekerja di sektor dan lokasi yang tercakup, termasuk karyawan PKWT. Untuk karyawan outsourcing, kewajiban ada di perusahaan penyedia jasa (vendor), namun perusahaan pengguna jasa bisa ikut bertanggung jawab jika terbukti ada pelanggaran sistematis.
Kapan UMSK 2025 mulai berlaku?
UMSK 2025 umumnya berlaku mulai 1 Januari 2025, mengikuti tanggal berlaku UMK 2025. Namun, SK penetapannya biasanya diterbitkan pada November–Desember 2024. Jika SK UMSK 2025 di daerah Anda belum ditemukan, cek apakah daerah tersebut memang tidak menetapkan UMSK (bukan berarti UMSK 2024 masih berlaku — UMSK tidak otomatis diperpanjang).
Apakah FirstPayroll bisa membantu mengelola payroll dengan UMSK yang berbeda-beda per lokasi?
Ya. FirstPayroll mendukung konfigurasi upah minimum yang berbeda per lokasi kerja dan per sektor, sehingga HR tidak perlu menghitung manual jika perusahaan punya karyawan di beberapa kabupaten/kota dengan UMSK berbeda. Mulai dari Rp 0/bulan untuk tim hingga 5 karyawan.
Kesimpulan: Tiga Tindakan yang Harus Dilakukan Minggu Ini
Upah minimum sektoral adalah lapisan kewajiban yang sering luput dari radar HR UKM — bukan karena tidak penting, tapi karena tidak ada notifikasi otomatis ketika SK-nya terbit. Konsekuensinya bisa sangat mahal, seperti yang dialami perusahaan logistik di Bekasi di awal artikel ini.
Tiga tindakan konkret untuk minggu ini:
- Cek KBLI Anda di OSS dan identifikasi apakah sektor Anda masuk dalam cakupan UMSK di daerah operasional Anda.
- Unduh SK UMSP/UMSK 2025 dari JDIH provinsi dan kabupaten/kota Anda — simpan sebagai dokumen compliance tahunan.
- Bandingkan dengan payroll aktual — jika ada selisih, hitung total dan mulai proses koreksi sebelum ada klaim atau inspeksi.
Jika Anda mengelola payroll untuk karyawan di beberapa lokasi dengan potensi UMSK berbeda-beda, proses ini bisa sangat memakan waktu jika dilakukan manual. Lebih dari 1.000 karyawan telah dikelola di FirstPayroll oleh UKM Indonesia sejak peluncuran — termasuk perusahaan dengan karyawan di beberapa kabupaten/kota yang masing-masing punya struktur upah minimum berbeda. Coba gratis di FirstPayroll dan lihat bagaimana konfigurasi upah minimum sektoral bisa dikelola tanpa spreadsheet yang rumit.
Regulasi yang Dirujuk:
- PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan — khususnya Pasal 25 tentang upah minimum sektoral
- Permenaker No. 18 Tahun 2022 tentang Penetapan Upah Minimum — mekanisme dan jadwal penetapan UMSP/UMSK
- UU No. 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu No. 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja — kerangka hukum upah minimum yang berlaku saat ini
- UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 185 — ketentuan sanksi pidana pelanggaran upah minimum
Sumber Data & Referensi:
- Keputusan Gubernur DKI Jakarta tentang Upah Minimum Sektoral Provinsi (berbagai tahun) — diakses melalui JDIH Provinsi DKI Jakarta
- Keputusan Gubernur Jawa Barat tentang UMSK Kabupaten/Kota (berbagai tahun) — diakses melalui jdih.jabarprov.go.id
- Keputusan Gubernur Banten tentang UMSP Provinsi Banten (berbagai tahun) — diakses melalui jdih.bantenprov.go.id
- Kementerian Ketenagakerjaan RI — data penyelesaian sengketa hubungan industrial tingkat bipartit
- OSS (Online Single Submission) — sistem KBLI dan NIB, oss.go.id
- JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum) — portal resmi dokumentasi hukum daerah
Catatan Editorial: Angka UMK dan UMSK dalam artikel ini bersifat ilustratif untuk keperluan contoh perhitungan. Selalu verifikasi angka aktual dari Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota resmi yang berlaku di daerah Anda untuk tahun 2025.
